Memiliki 150 proyek secara nasional, tahun lalu BUMN ini berhasil menjual 13.023 ribu rumah senilai Rp3,8 triliun.

Kendati belum kembali seperti era 1980 hingga awal 1990-an yang dapat membangun puluhan ribu rumah dalam setahun, Perumnas tetap menjadi kampiun pembangunan hunian murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tahun 2014 Perumnas mulai kembali ke treknya. Tahun itu BUMN berusia 44 tahun ini membangun sekitar 24 ribu rumah. Program sejuta rumah jadi momentum makin terdongkraknya kinerja Perumnas. Untuk pertama kalinya setelah krismon 1998, tahun 2015 Perumnas mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp1 triliun dan di tahun 2016 mendapatkan PMN lagi sebesar Rp. 250 M. “Tahun 2018 kami berhasil menjual 13.023 ribu rumah senilai Rp3,8 triliun,” kata Direktur Pemasaran Perumnas Anna Kunti Pratiwi. Omzet itu melampaui penjualan sejumlah developer papan atas.

Tidak seluruhnya rumah bersubsidi. Rasio antara rumah subsidi dan non subsidi 50:50. Mayoritas rumah tapak, 29% persen hunian vertikal. Keberhasilan membangun rumah sebanyak itu disiapkan sejak tiga tahun lalu. Tahun 2016, Perumnas melakukan survei pasar di 31 kota untuk mengetahui supply & demand hunian terjangkau. Dari situ diketahui backlog terbesar ada di kota besar terutama megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Perumnas kemudian menyusun ulang portofolio proyeknya dengan mengembangkan lebih banyak rusunami (rumah susun sederhana milik) mulai tahun 2016 . Proyek-proyek lama direvitalisasi, salah satunya rusun Sukaramai Medan dan menyusul lokasi lainnya yang membutuhkan program revitalisasi.


Hunian vertikal

Di Sukaramai bangunan tua setinggi empat lantai yang sudah berumur sekitar 20 tahun itu dibangun ulang menjadi 20 lantai. Namanya diubah menjadi Sentraland Medan. Di situ bisa dibangun beberapa menara apartemen. Tahap pertama dikembangkan dua tower seharga Rp320 jutaan/unit (tipe studio 23 m2). Penghuni bersedia direvitalisasi karena akan mendapat hunian baru dan berkelas bersama penghuni (pembeli) baru. Sementara di Perumnas Antapani (Bandung) kini dikembangkan apartemen Antaloca (19 lantai).

Strategi revitalisasi itu membuat Perumnas punya area pengembangan baru dengan kapasitas lebih besar di dalam kota. Selain itu aset-aset di lokasi strategis dibangun apartemen menengah. Sebagian besar menggunakan brand Sentraland, antara lain Sentraland Cengkareng, Grand Sentraland Karawang dan Sentraland Medan.

Perumnas juga memasarkan rusunami siap huni Bandar Kemayoran di Pademangan, Jakarta Utara. Semuanya di lokasi strategis di dalam kota dan dekat dengan jalan tol. Antaloca misalnya, dekat dengan terminal Antapani yang kelak terintegrasi dengan LRT Bandung . Dari Gedung Sate Bandung sekitar 5 km. Itu belum termasuk tiga proyek apartemen hasil kolaborasi dengan PT Kereta Api (KAI) di Jabodetabek: Mahata Serpong, Mahata Tanjung Barat, dan Mahata Margonda.

“Tiga proyek itu hasil sinergi BUMN, dibangun di lahan milik KAI di area stasiun kereta komuter,” ungkap Kunti. Dari tiga proyek Mahata yang terintegrasi dengan stasiun kereta itu, Perumnas mensuplai 3.930 unit apartemen. Menurut Kunti, respon pasar sangat bagus. Sejak dikenalkan ke pasar beberapa bulan lalu sudah terpesan lebih dari 40 persen. Mahata Margonda (2.77 ha/2 tower/898 unit) yang terintegrasi dengan stasiun Pondok Cina, Depok, tahap pertama memasarkan dua tower 28 lantai. Tipe unitnya studio 23 m2, satu kamar tidur (KT) 32 m2, 2 KT 42 m2, seharga mulai dari Rp480 jutaan.

Mahata Tanjung Barat di stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, harganya mulai dari Rp500 jutaan (tipe studio 24 m2). Konon pembelinya sudah antre cukup banyak karena lokasi apartemen dekat koridor bisnis TB Simatupang-RA Kartini, Jakarta Selatan. Di seberangnya ada AEON Mall yang akan beroperasi tahun depan. Mahata Serpong tidak kalah menarik. Lokasinya nempel BSD City di stasiun Rawabuntu, Serpong, Tangerang Selatan. Paling kecil tipe studio 21.9 m2 dibandrol Rp379,1 juta, tipe 2 KT 35,9 m2 Rp 620,5 juta.

Dari sekian proyek hunian vertikal itu, yang paling besar Sentraland Cengkareng (4.5 ha) yang akan mencakup 19 menara Lokasinya di belakang mal Taman Palem di Jl Kamal Cengkareng, Jakarta Barat, dan mudah diakses dari tol JORR W1, selain itu juga sudah beroperasinya feeder busway yang haltenya berlokasi tepat di halaman Sentraland Cengkareng. Tower pertama (1.130 unit) yang dilengkapi area komersial hampir selesai. “Tipe unit paling kecil studio 22,3 m2 seharga Rp 311, juta, dengan KPA Rp327 juta,” terang Ari Kartika, GM Pemasaran Perumnas.


Perumahan karyawan

Pengembangan hunian tapak juga cukup agresif. Namanya kini diawali kata Perumnas. Rebranding dilakukan agar lebih marketable sekaligus mengerek nama Perumnas. Selain proyek lama yang masih berjalan, ada beberapa perumahan baru. Misalnya, Perumnas Dramaga (40 ha) Bogor, Perumnas Pasadana Cicalengka (Bandung), Perumnas Royal Campaka (30 ha) Purwakarta, Perumnas Bontoa, Maros (Sulawesi Selatan), dan Perumnas Haluoleo Kendari. Royal Campaka, sekitar 10 menit dari gerbang tol Sadang, melansir tipe 36/84 dan 45/98 dilengkapi ruko. Perumnas Haluoleo lokasinya dekat kampus UIN dan bandara.

Pengembangan proyek skala luas jadi pilihan karena kualitas proyeknya bisa lebih baik dan dapat mengangkat nama Perumnas. “Kita akan lebih banyak mengembangkan kawasan yang luasnya paling tidak 40 hektar seperti Perumnas Dramaga. Dengan demikian kita bisa membuat gerbang dan desain lebih menarik. Lingkungannya juga lebih tertata,” terang Kunti.

Proyek lama yang cukup luas tersebar di tiga lokasi: Bumi Parung Panjang (212 ha), Griya Martubung Medan, Perumnas Green View Palembang (108,77 ha). Masih banyak yang lain dengan skala lebih kecil. Perumnas Parayasa adalah nama baru Bumi Parung Panjang dekat stasiun Parung Panjang di jalur kereta komuter Jakarta (Tanah Abang)-Bintaro-Serpong-Parung Panjang-Tigaraksa-Tenjo-Maja-Rangkasbitung.

Untuk segmen yang lebih tinggi, proyeknya dikembangkan anak usaha PT Propernas Griya Utama seluas 26 Ha di Surabaya. Adapun Perumnas juga memilik proyek bernama Sentraland Surabaya di Gresik, Jawa Timur, seluas 30 ha, dekat kawasan Surabaya Barat yang dipenuhi hunian menengah atas dengan harga mulai Rp 500 jutaan untuk tipe 36/78. Perumnas meladeni segmen middle middle low mencakup hunian subsidi hingga rumah menengah di bawah Rp500 juta. Segmen ini cukup gemuk. Terbukti dengan terjualnya 1.500 rumah di Perumnas Dramaga hanya dalam beberapa bulan. Terdiri dari rumah bersubsidi tipe 21/60 dan 28/72, serta non-subsidi tipe 36/84 dan 36/90 seharga Rp140-300 jutaan. Perumnas Dramaga menjadi pilot project Perumnas untuk standar kualitas rumah subsidi. Dindingnya menggunakan beton precast, rangka atap baja ringan, kusen alumunium, dan atap metal.

Untuk makin mendongkrak penjualan, Perumnas menggandeng instansi pemerintah dan perbankan membangun rumah pegawainya. Contohnya, membangun rumah pegawai BPK (500 unit) dan Kementerian Koperasi dan UKM (300 unit) di Perumnas Parayasa Parung Panjang dalam klaster tersendiri. Tipenya sesuai permintaan (customize), 27/72, 36/102, 36/72, 45/96 dan 45/150 dengan harga dan kualitas yang sangat bersaing dibanding kompetitor. Dalam kerjasama ini BNI menjadi bank penyedia KPR-nya, karena payroll para pegawai dua instansi itu di BNI. Program seperti ini akan diperluas secara nasional.

Rumah yang akan dibangun di Perumnas Parayasa, juga disebut sektor 5, sebanyak 8.600 unit, dengan pembangunan tahap awal 3.000 unit. Di tahap sebelumnya sudah terbangun hampir 10 ribu rumah di sector 1-4. Untuk memudahkan mobilitas penghuni, Perumnas sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan PT KAI untuk menambah stasiun baru dekat sektor 5. Total Perumnas memiliki 150 proyek dengan luas bervariasi di seluruh Indonesia.

Unit